Berita

160 Ormas se-Lamongan Dibina Bakesbangpol: Bukan Sekadar Hadir, Tapi Harus Jadi Mitra Pemerintah dan Penjaga Kondusivitas

GARUDATODAY.INFO.LAMONGAN – Sebanyak 160 perwakilan lembaga dan organisasi kemasyarakatan (Ormas) se-Kabupaten Lamongan mengikuti pembinaan yang digelar Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kabupaten Lamongan, Kamis (3/9/2026).

Kegiatan yang berlangsung di Gedung Handayani Dinas Pendidikan Kabupaten Lamongan tersebut mengusung tema “Penguatan Sinergi Ormas dalam Mendukung Pembangunan dan Mewujudkan Kondusivitas Wilayah.”

Dokumentasi Kegiatan Pembinaan 160 Ormas

Namun, forum tersebut tidak sekadar menjadi agenda pembinaan rutin. Pertemuan itu menjadi ruang untuk mempertegas kembali posisi Ormas di tengah masyarakat: apakah hanya menjadi organisasi yang aktif saat ada kegiatan, atau benar-benar mampu menjadi jembatan aspirasi sekaligus mitra strategis pemerintah dalam menyelesaikan persoalan masyarakat?

Sejumlah unsur pemerintah, aparat keamanan, dan penegak hukum turut memberikan pembekalan kepada para peserta. Materi disampaikan oleh Kejaksaan Negeri Lamongan, Kodim 0812 Lamongan, serta Polres Lamongan.

Hadir sebagai pemateri di antaranya Kasi Intelijen Kejari Lamongan Irfan Nurcahyo, S.H., Kasubsi Hamkam, Sosbud, dan Kemasyarakatan Kejari Lamongan Nugroho Satya Basuki, S.H., Pasintel Kodim 0812 Lamongan Kapten Inf. Sofiul, serta Kanit II Sat Intelkam Polres Lamongan Ipda Daniar Vigit Rayanda, S.H.

Ormas Jangan Hanya Ramai Saat Ada Kegiatan

Kepala Bakesbangpol Kabupaten Lamongan Johny Indrianto Firmansyah, S.STP., M.Si., menegaskan bahwa keberadaan Ormas memiliki posisi penting dalam kehidupan sosial sekaligus pembangunan daerah.

Menurutnya, Ormas tidak semestinya hanya dipandang sebagai wadah berhimpun. Lebih dari itu, Ormas memiliki tanggung jawab untuk menjadi penghubung antara masyarakat dengan pemerintah serta ikut menjaga keamanan dan ketertiban di lingkungan masing-masing.

“Sinergitas antara pemerintah daerah, aparat keamanan, dan organisasi kemasyarakatan harus terus dipupuk. Ormas bukan hanya wadah berkumpul, melainkan motor penggerak masyarakat yang memiliki tanggung jawab bersama dalam menjaga iklim daerah yang aman, damai, dan kondusif,” ujarnya.

Pesan tersebut menjadi penting di tengah dinamika masyarakat yang semakin kompleks. Perbedaan kepentingan, persoalan sosial, hingga potensi konflik dapat muncul kapan saja.

Karena itu, Ormas dituntut tidak hanya mampu menyampaikan aspirasi, tetapi juga memiliki kemampuan melakukan deteksi dini, membangun komunikasi, meredam gesekan, dan ikut mencari solusi atas persoalan yang muncul di masyarakat.

Sinergi Jangan Berhenti di Ruang Pertemuan

Pembinaan tersebut juga menegaskan bahwa hubungan antara Ormas, pemerintah daerah, TNI-Polri, dan Kejaksaan tidak boleh berhenti sebatas forum seremonial.

Sebab, ukuran keberhasilan sinergi bukanlah banyaknya peserta yang hadir dalam sebuah kegiatan.

Ukuran sesungguhnya adalah sejauh mana sinergi tersebut mampu dirasakan masyarakat ketika persoalan benar-benar muncul di lapangan.

Ketika terjadi konflik sosial, ketika muncul persoalan pembangunan, ketika masyarakat membutuhkan ruang menyampaikan aspirasi, atau ketika terjadi potensi gangguan keamanan dan ketertiban, di situlah kapasitas Ormas diuji.

Ormas harus mampu menjadi bagian dari solusi, bukan justru memperbesar persoalan.

Ormas Punya Tanggung Jawab Sosial

Lamongan memiliki banyak organisasi kemasyarakatan dengan latar belakang, karakter, dan kepentingan yang beragam. Keberagaman tersebut seharusnya menjadi kekuatan sosial untuk mendorong pembangunan daerah.

Ormas dapat mengambil peran melalui pengawasan sosial, pemberdayaan masyarakat, pendidikan kebangsaan, penguatan kerukunan, penyampaian aspirasi, hingga mendukung program pembangunan yang berpihak kepada kepentingan masyarakat.

Namun, sinergi juga harus dibangun secara sehat.

Pemerintah membutuhkan Ormas sebagai mitra kritis dan konstruktif. Sebaliknya, Ormas membutuhkan ruang yang cukup untuk menyampaikan kritik, aspirasi, maupun koreksi terhadap kebijakan pemerintah.

Sinergi bukan berarti Ormas harus selalu membenarkan pemerintah. Sinergi justru harus mampu menghadirkan komunikasi yang sehat, kritik yang berbasis fakta, serta solusi yang berpihak kepada kepentingan masyarakat.

Pada akhirnya, pembinaan terhadap 160 perwakilan Ormas se-Kabupaten Lamongan tersebut menjadi momentum untuk menguatkan kembali peran organisasi kemasyarakatan.

Bukan sekadar hadir ketika diundang.

Bukan sekadar ramai ketika ada kegiatan.

Tetapi hadir ketika masyarakat membutuhkan, bersuara ketika aspirasi harus disampaikan, mampu menjadi penengah ketika terjadi persoalan, dan ikut bekerja ketika pembangunan membutuhkan partisipasi masyarakat.

Sebab, keberadaan Ormas akan benar-benar bermakna bukan ketika organisasinya terlihat besar, tetapi ketika kehadirannya mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan daerah.

Lantas, sudah sejauh mana Ormas di Lamongan menjalankan peran tersebut?

Pertanyaan itu menjadi pekerjaan bersama, bukan hanya bagi Ormas, tetapi juga bagi pemerintah dan seluruh elemen masyarakat Lamongan.(Redaksi )

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button