90 Hari ‘Genangan Abadi’ Bengawan Jero: Saat Air Tak Lagi Bencana, Melainkan Cermin Kelalaian

GARUDATODAY.INFO.LAMONGAN — Warga di kawasan Bengawan Jero, Kabupaten Lamongan, tampaknya sudah tidak lagi menyebut air yang merendam wilayah mereka sebagai “banjir”. Bagi mereka, ini adalah genangan abadi—fenomena yang datang bukan karena langit terlalu deras menurunkan hujan, melainkan karena bumi yang tak lagi mampu mengalirkan airnya.
Selama hampir 90 hari, genangan itu bertahan. Diam, namun mematikan. Ia melumpuhkan aktivitas ekonomi, menenggelamkan akses warga, dan secara perlahan mengikis harapan.
Yang menjadi ironi, persoalan ini bukanlah kejadian luar biasa. Warga justru menilai ini sebagai siklus tahunan yang seolah dibiarkan terjadi.
Bukan curah hujan yang menjadi tersangka utama, melainkan aliran sungai yang tersendat, sedimentasi yang dibiarkan, serta tata kelola air yang tak kunjung dibenahi. Air tidak datang dengan ganas—ia hanya tidak diberi jalan untuk pergi.
Seorang warga, dengan nada pasrah yang menyimpan getir, mengungkapkan realitas yang selama ini jarang terdengar lantang.
“Ini sudah biasa setiap tahun, Mas. Kita sudah tidak kaget. Mau mengeluh juga percuma, ujungnya hanya menguntungkan kepentingan orang atas saja.”
Kalimat itu sederhana, namun menampar. Sebab di balik genangan yang tak kunjung surut, muncul dugaan yang lebih dalam—bahwa kondisi ini seolah menjadi “ritual tahunan” yang justru menguntungkan segelintir pihak.
“Kalau begini terus, orang atas bisa terus ajukan bantuan ke pusat. Tapi apakah itu menyelesaikan masalah di sini? Tidak, Mas,” lanjutnya tegas.
Pernyataan ini menjadi sinyal keras bahwa publik mulai mempertanyakan arah kebijakan. Apakah genangan ini benar-benar dianggap masalah yang harus diselesaikan, atau sekadar komoditas situasional yang berulang demi kepentingan tertentu?
Di sisi lain, publik juga menyoroti momentum yang kerap terlewat: musim kemarau. Saat air surut, seharusnya menjadi waktu ideal untuk melakukan normalisasi sungai, pengerukan, hingga pembenahan sistem drainase. Namun yang terjadi, persoalan itu tetap dibiarkan mengendap—hingga musim hujan datang dan siklus kembali terulang.
Lebih jauh, muncul sindiran tajam dari masyarakat terkait arah prioritas anggaran. Di tengah genangan yang menahan roda ekonomi warga, kegiatan-kegiatan seremonial justru masih terlihat berjalan tanpa jeda—seolah lebih penting dari solusi nyata yang ditunggu masyarakat.
Bengawan Jero hari ini bukan sekadar wilayah yang tergenang. Ia telah berubah menjadi cermin besar—yang memantulkan bagaimana sebuah persoalan bisa terus hidup, bukan karena tak bisa diselesaikan, tetapi karena tak pernah benar-benar diselesaikan.
Kini pertanyaannya sederhana, namun menggugah:
Apakah genangan ini akan terus dijadikan kebiasaan, atau akhirnya diakhiri dengan keberanian mengambil tindakan nyata? [*]
Aspirasi warga begawan jero.



