Dari Magelang untuk Dunia, Prof. C.C. Chan Ungkap Masa Depan Kendaraan Listrik: Teknologi Harus Berujung pada Kebahagiaan Manusia

GARUDATIDAY.INFO.BALI — Forum China-Southeast Asia Forum on Higher Education and Industry Cooperation 2026 di Tsinghua South East Asia Center, Bali, menghadirkan sosok ilmuwan yang memiliki perjalanan panjang dalam perkembangan teknologi kendaraan listrik dunia.(4/10/2026),
Ia adalah Prof. C.C. Chan, ilmuwan berusia 89 tahun yang dikenal luas sebagai salah satu pelopor dan tokoh penting perkembangan kendaraan listrik di Asia.
Menariknya, ilmuwan kelas dunia tersebut memiliki akar kuat di Indonesia. Prof. C.C. Chan lahir di Magelang, Jawa Tengah, pada 1937, dan menghabiskan 16 tahun pertama kehidupannya di tanah Jawa sebelum melanjutkan perjalanan akademik dan risetnya ke luar negeri.
Di hadapan peserta forum, Prof. Chan bahkan masih mampu menyapa dengan bahasa Indonesia dan menyelipkan candaan berbahasa Jawa.
Dalam paparannya bertajuk “Carbon Neutrality & Energy System Transition”, Prof. Chan tidak sekadar berbicara tentang kendaraan listrik. Ia membawa peserta pada pembahasan yang jauh lebih luas: bagaimana manusia, energi, teknologi, informasi, dan nilai kemanusiaan harus ditempatkan dalam satu ekosistem.
Tiga Hukum Baru Teknik Otomotif
Prof. Chan memperkenalkan gagasan mengenai “Tiga Hukum Baru Teknik Otomotif”.
Pertama, kendaraan tidak lagi dipandang hanya sebagai alat transportasi. Mobil masa depan akan menjadi entitas cerdas yang mengintegrasikan energi, informasi, dan komunikasi.
Kedua, terjadi revolusi pada “jantung” kendaraan. Mesin pembakaran internal secara bertahap digantikan motor listrik yang memungkinkan aliran energi dua arah melalui teknologi Vehicle-to-Grid (V2G).
Dengan teknologi tersebut, kendaraan tidak hanya mengambil energi dari jaringan listrik, tetapi berpotensi mengembalikan energi ke jaringan ketika dibutuhkan.
Ketiga, revolusi terjadi pada “otak” kendaraan. Mobil masa depan akan semakin bergantung pada cip berperforma tinggi, sistem operasi, konektivitas, serta algoritma kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
Namun, menurut Prof. Chan, kecanggihan teknologi tidak boleh membuat manusia kehilangan kendali atas arah perubahan.
Energi Hijau dan Tantangan Sistem Kelistrikan
Gagasan tersebut sekaligus membuka persoalan besar dalam transisi energi.
Selama puluhan tahun, sistem kelistrikan dunia sangat bergantung pada pembangkit dengan turbin berputar yang memberikan inersia mekanis untuk menjaga kestabilan sistem.
Sementara itu, penetrasi energi terbarukan seperti tenaga surya dan angin semakin besar. Sistem tersebut banyak menggunakan inverter yang tidak memiliki massa berputar sebagaimana pembangkit konvensional.
Kondisi tersebut mendorong para insinyur mengembangkan konsep “inersia sintetis”, yakni kemampuan sistem berbasis inverter untuk merespons perubahan frekuensi dan menjaga kestabilan jaringan melalui teknologi kontrol dan algoritma.
Persoalan serupa muncul pada teknologi V2G. Secara konsep, kendaraan listrik dapat menjadi bagian dari sistem penyimpanan energi nasional. Namun, penggunaan baterai kendaraan secara intensif untuk menopang jaringan juga memiliki konsekuensi terhadap umur dan degradasi baterai.
Pertanyaan yang lebih mendasar pun muncul: seberapa hijau kendaraan listrik apabila energi yang digunakan untuk mengisi baterainya masih berasal dari pembangkit berbahan bakar batu bara?
Ketika Energi Bertemu Informasi
Dalam paparannya, Prof. Chan juga mempertemukan dua konsep besar: kesetaraan massa-energi Einstein dan teori informasi Claude Shannon.
Energi dan informasi selama ini sering dipandang sebagai dua ranah berbeda. Namun, dalam ekosistem teknologi masa depan, keduanya semakin berkelindan melalui perilaku manusia.
Perilaku manusia menghasilkan data. Data kemudian diolah menjadi informasi dan kecerdasan. Kecerdasan tersebut selanjutnya digunakan untuk mengelola energi dan sumber daya secara lebih efisien.
Karena itu, transformasi energi tidak cukup hanya dilihat dari perspektif teknologi.
Empat Jaringan dan Empat Aliran
Prof. Chan menawarkan gagasan integrasi “4 Jaringan dan 4 Aliran”.
Empat jaringan tersebut meliputi:
1. Jaringan Energi
2. Jaringan Transportasi
3. Jaringan Informasi
4. Jaringan Humaniora
Keempat jaringan tersebut kemudian dihubungkan melalui empat aliran utama, yakni energi, informasi, material, dan nilai (value).
Dari sinilah muncul gagasan Cognitive Twin, yang melampaui konsep Digital Twin.
Jika Digital Twin lebih banyak merepresentasikan kondisi fisik dan teknis suatu sistem secara digital, maka Cognitive Twin berupaya memasukkan dimensi yang lebih kompleks: perilaku sosial, budaya, kebutuhan manusia, hingga aspek etika.
Dengan demikian, kota cerdas tidak hanya menjadi kota yang terkoneksi teknologi, tetapi juga kota yang memahami manusia.
Indonesia Jangan Hanya Menjadi Raja Baterai
Gagasan tersebut memiliki relevansi kuat bagi Indonesia yang saat ini tengah agresif mendorong hilirisasi nikel, pembangunan smelter, dan pengembangan industri baterai kendaraan listrik.
Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu pemain penting dalam rantai pasok kendaraan listrik global.
Namun, pembangunan industri tidak boleh berhenti pada penguasaan material.
Ada satu dimensi yang tidak boleh ditinggalkan: Jaringan Humaniora.
Ketika kendaraan, energi, kota, dan berbagai layanan publik semakin terhubung melalui jaringan digital, muncul pula tantangan baru seperti keamanan siber, perlindungan data pribadi, kesenjangan akses teknologi, keadilan sosial, serta dampak lingkungan.
Jangan sampai masyarakat hanya menjadi objek dari sistem yang semakin pintar, tetapi kehilangan ruang untuk menentukan arah kehidupan mereka sendiri.
Teknologi Harus Berujung pada Kebahagiaan
Pesan terbesar dari forum tersebut bukan sekadar tentang mobil listrik, AI, baterai, atau energi terbarukan.
Lebih dari itu, Prof. Chan mengingatkan bahwa tujuan akhir kemajuan teknologi adalah meningkatkan kualitas kehidupan manusia.
Masyarakat cerdas bukan hanya masyarakat yang mampu menggunakan teknologi tercanggih, tetapi masyarakat yang mampu memastikan teknologi bekerja untuk kepentingan manusia.
Di tengah percepatan AI dan pembangunan gigafactory baterai, inovasi yang paling penting bukan selalu teknologi yang paling canggih, melainkan teknologi yang paling kuat berpijak pada nilai kemanusiaan, keadilan, etika, dan keberlanjutan lingkungan.
Sebab, mesin membutuhkan energi, data membutuhkan algoritma, tetapi peradaban membutuhkan filosofi dan nurani.
Dan pesan itu terasa semakin kuat ketika disampaikan oleh seorang ilmuwan kelahiran Magelang yang, setelah puluhan tahun berkeliling dunia, masih mengingat bahasa dan rima dari tanah Jawa tempat ia tumbuh.
AMH — Agus Muhamad Hatta
Guru Besar dan Wakil Rektor Bidang Akademik dan Riset ITS



