Berita

Program TEKAD Dorong Ekonomi Desa Halmahera Barat, Payo Bersiap Jadi Desa Tematik Briket

GARUDATODAY.INFO.HALMAHERA BARAT, Program Transformasi Ekonomi Kampung Terpadu (TEKAD) Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT) mulai dirasakan manfaatnya oleh masyarakat desa di Kabupaten Halmahera Barat, Maluku Utara. Program tersebut dinilai mampu mendorong aktivitas ekonomi masyarakat sekaligus membuka peluang usaha baru berbasis potensi lokal.

Hal itu terlihat saat Tim Strategi Policy Unit (SPU) Program TEKAD Kemendes PDT melakukan monitoring dan kunjungan lapangan ke Desa Payo dan Desa Pateng, Kabupaten Halmahera Barat, Rabu (30/9/2026).

Kedua desa tersebut merupakan penerima intervensi Program TEKAD, meliputi Demplot, Rumah Industri Terpadu Desa (RITD), dan Infrastructure Facility (IF).

Desa Payo Kembangkan Rumah Produksi Briket

Di Desa Payo, Program TEKAD diarahkan untuk mengembangkan potensi kelapa, khususnya limbah tempurung atau batok kelapa, menjadi produk bernilai ekonomi berupa briket.

Keterangan Foto : Batik M Arif An memberikan penjelasan ke Kepala Desa Payo Hamsir Noho

Kepala Desa Payo, Hamsir Noho, menyampaikan apresiasi atas dukungan Program TEKAD yang diterima desanya.

“Kami sangat berterima kasih dengan Program TEKAD dari Kemendes ini. Kami mendapatkan bantuan Rp100 juta pada tahun 2026. Melalui program Demplot ini kami membangun rumah produksi briket. Sambil proses pembangunan berjalan, kami juga akan mengadakan pelatihan teknis pembuatan briket dengan bahan dasar batok kelapa yang nantinya bisa menyerap tenaga kerja sekitar 10 orang,” ujarnya.

Menurut Hamsir, hasil produksi briket nantinya akan dipasarkan ke Ternate. Pemerintah Desa Payo juga mulai mengarahkan pengembangan usaha tersebut sebagai identitas ekonomi baru desa.

“Kami berharap Desa Payo nantinya bisa menjadi Desa Tematik Briket, sehingga potensi kelapa yang selama ini belum maksimal dapat memberikan nilai tambah bagi masyarakat,” tambahnya.

Dorong Kolaborasi Bumdes dan Petani

Fasilitator Ekonomi Program TEKAD Kabupaten Halmahera Barat, Yohanis, mengatakan pengembangan rumah produksi briket dapat menjadi salah satu instrumen untuk menggerakkan ekonomi masyarakat dari bawah.

Menurutnya, potensi bahan baku berupa batok kelapa di Desa Payo cukup besar. Hasil produksi kelapa masyarakat yang selama ini belum memiliki nilai tambah dapat diolah menjadi produk ekonomi baru.

“Ekonomi desa kami perlahan akan tumbuh. Kalau batok kelapa dari petani bisa diolah di rumah produksi briket, yang selama ini dalam waktu sekitar tiga bulan diperkirakan menghasilkan 50 ton, maka potensi pemerataan ekonomi dari bawah akan semakin terbuka,” jelas Yohanis.

Ia menekankan pentingnya membangun pola kerja sama antara BUMDes dan kelompok petani, mulai dari penyediaan bahan baku, proses produksi hingga pemasaran.

“Kolaborasi dan kerja sama antara BUMDes dan warga petani harus terbangun dengan baik,” katanya.

Desa Pateng Fokus Cabai dan Rumah Produksi Sambal

Monitoring kemudian dilanjutkan ke Desa Pateng yang berada bersebelahan dengan Desa Payo.

Desa Pateng mendapatkan dukungan Program TEKAD melalui pengembangan Demplot tanaman cabai keriting seluas satu hektare dengan anggaran Rp100 juta pada 2025.

Sementara pada 2026, Desa Pateng mendapatkan dukungan RITD sebesar Rp300 juta untuk pembangunan rumah produksi sambal serta IF sebesar Rp250 juta untuk pengadaan alat dan mesin pertanian, embung dan tandon air guna mendukung kebutuhan pertanian.

Kepala Desa Pateng, Gaflih Anwar, mengatakan manfaat program mulai dirasakan masyarakat.

“Kami merasakan hasilnya dari Program TEKAD ini. Harapan kami program ini bisa dilanjutkan. Kalau bisa, Pemerintah Kabupaten juga meneruskan praktik baik ini sehingga program tidak berhenti setelah bantuan diterima, tetapi akses penjualan dan peningkatan kapasitas BUMDes semakin hari semakin baik,” ujarnya.

SPU Lakukan Monitoring dan Survei Exit Strategy

Dalam kunjungan tersebut, Tim SPU TEKAD yang terdiri dari M. Arif An dan Staf Tim Direktorat PKEI Kemendes PDT Novan Kartiko Ardianto, selain melakukan monitoring kegiatan literasi keuangan desa dan pengisian kuisioner reformulasi Indeks Desa, juga melakukan survei exit strategy Program TEKAD 2026.

M. Arif An menjelaskan, survei tersebut menjadi bagian penting untuk memperoleh gambaran kondisi desa menjelang berakhirnya intervensi program.

“Selain kita melakukan monitoring dan evaluasi kegiatan literasi keuangan, kemudian ada masukan untuk reformulasi Indeks Desa melalui kuisioner, kami juga menyajikan instrumen survei exit strategy Program TEKAD 2026,” kata M. Arif An, yang juga Tenaga Ahli Menteri Desa dan PDT.

Menurutnya, survei tersebut bertujuan memperoleh data ringkas namun cukup untuk menilai sejumlah aspek penting, antara lain capaian, kepemilikan, kemandirian, keberlanjutan, ketergantungan, risiko, serta kebutuhan transisi masing-masing desa sebelum Program TEKAD berakhir.

Pemkab Diminta Siapkan Keberlanjutan Program

Sejumlah usulan juga muncul agar praktik baik Program TEKAD tetap berlanjut setelah masa intervensi program selesai.

Salah satu opsi yang didorong adalah optimalisasi anggaran ketahanan pangan desa untuk mendukung keberlanjutan program yang telah berjalan, termasuk pengembangan Demplot dan RITD.

Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kabupaten Halmahera Barat, Fadli Husein, mengatakan keberlanjutan program menjadi tantangan yang perlu disiapkan bersama, terutama di tengah dinamika anggaran pemerintah.

“Adanya pengurangan Dana Desa dan juga efisiensi anggaran di setiap kabupaten, maka kita mau tidak mau harus meneruskan legacy Program TEKAD dengan memanfaatkan pendampingan dan anggaran ketahanan pangan,” ungkapnya.

Fadli juga mendorong agar DPMD memfokuskan pengembangan program pada 84 desa yang menjadi lokus penerima TEKAD, termasuk mengembangkan desa-desa tersebut sesuai potensi masing-masing sebagai desa tematik.

“Kami juga mengusulkan agar Indeks Desa diberikan akses, supaya kami bisa mengetahui desa mana yang layak atau tidak layak dalam beberapa program usulan. Tidak hanya untuk Program TEKAD, tetapi juga agar data tersebut dapat menjadi dasar untuk memberikan akses kepada kementerian dan lembaga lainnya,” tambahnya.

Dari Bantuan Menuju Kemandirian Desa

Kegiatan monitoring ditutup dengan kunjungan langsung Tim SPU TEKAD dan Direktorat PKEI Kemendes PDT, didampingi kepala desa dan fasilitator TEKAD Kabupaten Halmahera Barat, ke sejumlah lokasi kegiatan.

Tim meninjau pembangunan RITD, Demplot, fasilitas IF serta pengembangan hidroponik.

Program TEKAD di Halmahera Barat menunjukkan bahwa pengembangan ekonomi desa tidak hanya berkaitan dengan besarnya bantuan yang diterima, tetapi juga bagaimana intervensi tersebut mampu diubah menjadi usaha produktif, membuka lapangan kerja, memperkuat BUMDes, menciptakan pasar, dan membangun kemandirian ekonomi masyarakat.

Ke depan, keberlanjutan program menjadi pekerjaan bersama antara pemerintah desa, pemerintah kabupaten, masyarakat, BUMDes, pendamping dan para pemangku kepentingan agar praktik baik yang telah dibangun tidak berhenti ketika intervensi program berakhir.

Penulis: Antok/Faskab TEKAD

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button